Jayapura – Sebuah tonggak sejarah penting baru saja tercatat di Tanah Papua. Untuk pertama kalinya, proses repatriasi atau pemulangan benda-benda budaya Papua dari luar negeri dilaksanakan secara resmi di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen), Abepura, pada Kamis (6/8/2026).
Peristiwa ini bukan sekadar prosesi serah terima koleksi biasa, melainkan sebuah momentum bersejarah yang menandai kembalinya warisan budaya Papua ke tanah leluhurnya setelah puluhan tahun tersimpan di Amerika Serikat.

Koleksi bersejarah yang direpatriasi ini berasal dari O. W. (Bud) Hampton, seorang antropolog asal University of Colorado, Amerika Serikat. Hampton diketahui melakukan penelitian ekstensif di wilayah Pegunungan Papua sejak tahun 1970 hingga 1999. Selama hampir tiga dekade, ia mengumpulkan berbagai artefak budaya melalui mekanisme pembelian maupun sistem barter dengan masyarakat adat di wilayah Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Puncak Jaya, Nduga, hingga Yalimo.
Jumlah koleksi yang berhasil dipulangkan memiliki skala yang sangat masif, meliputi:1.200 artefak budaya fisik,Lebih dari 20.000 foto dan dokumentasi visual,100 rekaman suara.
Beragam dokumen ilmiah yang merekam jejak bahasa, tradisi, ritual, kesenian, hingga denyut kehidupan masyarakat Papua pada masa lampau.
Mengusung tema “Pulang ke Tanah Leluhur: Mengembalikan Warisan Budaya, Menguatkan Identitas Papua untuk Generasi Mendatang”, prosesi penyambutan yang berlangsung di Museum Loka Budaya Uncen ini turut disaksikan oleh jajaran akademisi, tokoh adat, budayawan, mahasiswa, serta masyarakat luas.

Kepala Museum Loka Budaya Uncen, Hendriko Kondologit, mengungkapkan bahwa inisiasi repatriasi ini bermula dari wasiat O. W. Hampton sebelum beliau wafat pada tahun 2017.
“Dalam wasiatnya, beliau secara khusus meminta agar keluarganya mencari orang Papua dan mengembalikan seluruh koleksi tersebut ke Tanah Papua. Amanat mulia itulah yang kemudian dijalankan oleh sebuah yayasan di California, bersama tim peneliti yang selama beberapa tahun berdedikasi melakukan konservasi dan pendataan koleksi,” papar Hendriko.
Proses pemulangan koleksi ini menempuh jalan yang panjang dan penuh tantangan. Sejak Museum Uncen menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak yayasan pada tahun 2023, seluruh tahapan administrasi, perawatan, hingga logistik pengiriman internasional memakan waktu hingga tiga tahun tujuh bulan.
Demi menjamin keamanan artefak, koleksi diberangkatkan dari Amerika Serikat pada 25 Mei 2026 melalui jalur laut. Setibanya di Jakarta pada 19 Juli 2026 untuk menyelesaikan proses kepabeanan, koleksi tersebut kemudian diterbangkan ke Jayapura dan kini telah tersimpan dengan aman di Museum Uncen.
Hendriko menegaskan, peristiwa ini bernilai sangat esensial karena menjadi langkah repatriasi pertama di Tanah Papua yang dieksekusi secara mandiri. “Selama ini, proses repatriasi umumnya dilakukan melalui mekanisme antarnegara di bawah kementerian pusat. Apa yang kita capai hari ini adalah buah kolaborasi antara Museum Universitas Cenderawasih, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, dan Dewan Adat Papua. Ini akan menjadi rujukan baru bagi proses repatriasi di masa mendatang,” tegasnya.
Menatap ke depan, Hendriko menambahkan bahwa berdasarkan penelusuran sejak 2023, masih terdapat sekitar 50.000 hingga 57.000 koleksi benda budaya Papua—belum termasuk sekitar 2.500 sisa jasad dan tengkorak peninggalan masa kolonial—di museum-museum Belanda. Pihak Museum Uncen telah membangun komunikasi dengan lembaga budaya di Belanda dan menargetkan penandatanganan MoU pada tahun depan untuk memulangkan sekitar 3.500 artefak lainnya.
Sebagai langkah awal, seluruh koleksi yang baru tiba akan dipusatkan di Museum Universitas Cenderawasih sebagai pusat penyimpanan (center hub). Kelak, koleksi ini akan didistribusikan ke museum-museum daerah di Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya seiring dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia setempat.

Kehadiran benda-benda budaya ini disambut penuh haru oleh Ketua Dewan Adat Papua, Dominikus Sorabut. Ia mengutarakan bahwa sesuatu yang amat berharga kini telah kembali ke ekosistemnya, kembali ke alam, dan pulang ke rumah asalnya.
“Secara fisik, nilai dan amanah luhur ini kini diletakkan di atas pundak Universitas Cenderawasih, mengukir sebuah babak sejarah baru. Di tengah keprihatinan atas kondisi masyarakat adat, warisan ini dititipkan kepada Uncen bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai spirit dan roh pendidikan bagi generasi saat ini dan masa depan,” tutur Sorabut.
Beliau menekankan bahwa kembalinya koleksi ini menjadi penanda kuat jati diri bangsa Papua yang berdiri di atas kekayaan lebih dari 1.200 bahasa dan keberagaman suku dari Sorong hingga Samarai, yang terus dijaga melalui persatuan perwakilan wilayah adat—Anim Ha, Bomberai, Domberai, hingga Saireri.

Merespons kepercayaan besar tersebut, Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih sekaligus Direktur Unit Usaha dan Pemanfaatan Aset (U2PA), Dr. Ferdinand Risamasu, S.E., M.Sc., Agr., yang hadir mewakili Rektor Uncen, menyampaikan rasa haru dan komitmen kuat institusinya.
“Sangat terharu rasanya melihat benda-benda ini. Anak-anak muda saat ini, sebagai generasi penerus, harus memiliki referensi dan pengetahuan mendalam tentang kebesaran budaya leluhur mereka,” ujar Dr. Ferdinand dalam sambutannya. “Ketika benda-benda ini kembali ke tanahnya, kita merasakan ada nyawa yang membangkitkan semangat generasi ini.”
Dr. Ferdinand menekankan bahwa Universitas Cenderawasih merasa sangat beruntung sekaligus memikul tanggung jawab besar. Kampus ini, melalui Museum Loka Budaya, akan menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk melihat rekam jejak leluhur Papua.

“Benda-benda ini akan mengukir sejarah bahwa kita terus ada dan bertahan. Kami menerima ini sebagai tanggung jawab yang luar biasa. Kami berjanji akan menjaga, memelihara, dan mendokumentasikannya sebagai bahan edukasi bagi anak cucu kita, agar mereka dan dunia tahu betapa berbudayanya leluhur tanah ini,” pungkas Dr. Ferdinand sembari menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh perwakilan lembaga adat yang hadir.
Kepulangan 1.200 artefak, 20.000 foto, dan 100 arsip audio bukan sekadar memulangkan warisan fisik masa lalu, melainkan menghidupkan kembali memori kolektif, kearifan leluhur, serta jati diri kultural masyarakat Papua yang telah puluhan tahun terpisah di luar negeri. Peristiwa penting ini menandai tonggak sejarah baru dalam pelestarian budaya Papua, sekaligus merintis jalan bagi pemulangan ribuan koleksi lain yang masih tersimpan di berbagai museum dan institusi global. (Humas)
![]()
