Program Magister Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Cenderawasih bekerja sama dengan SHOAL dan Masyarakat Limnologi Indonesia menggelar kegiatan Diskusi Kelompok Terarah bertajuk “Praktik Adat dan Kearifan Lokal dalam Menjaga Alam dan Ekosistem Danau Sentani Bersama Ondofolo Se-Danau Sentani”, Jumat (22/5/2026), di Rarabe Obhe, Kampung Ayapo.
Kegiatan ini mempertemukan para Ondofolo, Koselo/Kotelo, tokoh adat, akademisi, dan peneliti dari wilayah Sentani Barat, Tengah, dan Timur untuk mendiskusikan kondisi Danau Sentani sekaligus menggali kembali pengetahuan tradisional masyarakat adat dalam menjaga alam dan lingkungan.
Dalam pengantar diskusi, tim peneliti menyampaikan bahwa masyarakat adat memiliki posisi penting sebagai pemilik sekaligus penjaga Danau Sentani. Oleh karena itu, upaya penyelamatan danau dinilai harus melibatkan masyarakat adat bersama seluruh pemangku kepentingan.
Selama diskusi berlangsung, masyarakat adat dari berbagai wilayah Danau Sentani menyampaikan sejumlah persoalan yang kini dihadapi, mulai dari pendangkalan danau akibat sedimentasi dan kerusakan hutan di wilayah pegunungan, hilangnya beberapa jenis ikan asli Danau Sentani, hingga semakin berkurangnya kawasan sagu dan daerah serapan air akibat pembangunan dan penimbunan lahan. Masyarakat juga menyoroti masuknya ikan-ikan non-endemik yang dinilai mengancam keberadaan ikan asli Danau Sentani serta melemahnya peran Ondofolo dan nilai-nilai adat dalam menjaga lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Selain membahas kondisi lingkungan, diskusi juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali rumah adat atau Obhe sebagai pusat pembinaan budaya dan ruang musyawarah masyarakat adat. Masyarakat berharap nilai-nilai adat yang dahulu menjadi dasar dalam menjaga tanah, air, dan kehidupan bersama dapat kembali diperkuat untuk melindungi Danau Sentani bagi generasi mendatang.
Salah satu tokoh adat dan pemerhati budaya Sentani, Lewi Puhili, menyampaikan optimismenya terhadap upaya pelestarian Danau Sentani melalui kerja bersama antara masyarakat adat dan akademisi. Menurutnya, Ondofolo memiliki tanggung jawab untuk menjaga tanah, air, dan seluruh isi alam sebagai warisan kehidupan.
“Air kami, tanah kami adalah hidup kami,” ungkap Lewi Puhili dalam sesi wawancara usai kegiatan.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat adat tidak boleh kehilangan kepedulian terhadap lingkungan dan budaya yang selama ini menjadi dasar kehidupan masyarakat Sentani.
Sementara itu, tim penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendokumentasikan pengetahuan tradisional masyarakat Sentani yang selama ini belum banyak tercatat dalam literatur ilmiah, sekaligus memperkuat upaya konservasi Danau Sentani berbasis adat dan kearifan lokal.
Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore hari dan ditutup dengan diskusi kelompok serta penyusunan catatan hasil pembahasan dari masing-masing wilayah Sentani Barat, Tengah, dan Timur. *humas*
![]()
