FMIPA Uncen Bersiap Hadirkan Program Studi Profesi Apoteker Pertama di Tanah Papua

bnr-arrow-1-1.png

JAYAPURA, uncen.ac.id – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih mengambil langkah strategis dalam menjawab kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia Timur. Bekerja sama dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI), FMIPA Uncen menyelenggarakan kegiatan Visitasi Kelembagaan dan Pelatihan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) yang berlangsung di Gedung Kemitraan Freeport Uncen pada Kamis, 4 Juni 2026.

Kegiatan  ini dihadiri langsung oleh Wakil Rektor I Uncen, Dr. Dirk Y. P. Runtuboy, S.Pd., M.Kes., Wakil Rektor II Uncen, Dr. Ferdinand Risamasu, S.E., M.Sc., Agr., serta Dekan FMIPA Uncen, Dr. rer. nat. Henderite L. Ohee, M.Si.

Turut hadir sebagai tim visitasi dan narasumber dari APTFI, antara lain:

Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si. (Dekan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada)

Prof. Dr. apt. Lannie Hadisuwignyo, M.Si.

Prof. Dr. apt. Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, M.Si.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si., menyampaikan bahwa visi utama APTFI adalah penguatan mutu pendidikan tinggi farmasi di seluruh Indonesia. Saat ini, terdapat sekitar 117 Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) yang telah berdiri, namun persebarannya belum merata, khususnya di Tanah Papua yang belum memiliki program profesi tersebut.

“Rasio apoteker di Indonesia saat ini belum sesuai dengan standar WHO. Apalagi Papua memiliki wilayah yang sangat luas, sehingga fasilitas pelayanan kesehatan dan kefarmasian harus terus didukung demi kesehatan masyarakat. Kami sangat mengapresiasi gerak cepat FMIPA Uncen,” ujar Prof. Satibi.

Ia mengisahkan bahwa komunikasi intensif telah dibangun sejak 1,5 bulan lalu saat Dekan FMIPA Uncen berkunjung ke UGM. Kunjungan balasan dari APTFI ini bertujuan untuk meninjau kesiapan fasilitas OSCE Center dan CBT Center, sekaligus memberikan pelatihan bagi para penguji OSCE.

Terkait infrastruktur, Prof. Satibi menjelaskan bahwa Uncen memanfaatkan sistem asset sharing dengan menggunakan fasilitas OSCE Center milik Fakultas Kedokteran, hal yang dinilai sangat baik secara regulasi. Sementara dari sisi SDM, ia menekankan pentingnya pelibatan praktisi atau preseptor.

“Standar penguji OSCE adalah 80% dosen homebase berkualifikasi Magister dan Apoteker, serta 20% merupakan perseptor dari wahana praktik seperti rumah sakit, puskesmas, apotek, maupun industri. APTFI akan menjadikan Uncen sebagai salah satu prioritas pendampingan. Tujuan kami bukan mencari kekurangan, melainkan mendampingi agar persiapan ujian OSCE dan CBT berjalan lancar hingga izin operasional PSPPA segera terbit,” tambahnya.

Wakil Rektor I Uncen, Dr. Dirk Y. P. Runtuboy, S.Pd., M.Kes., yang hadir mewakili Rektor Uncen, mengungkapkan bahwa kehadiran prodi profesi ini sudah menjadi kerinduan mendalam sejak dibukanya prodi S1 Farmasi di Uncen.

“Kebutuhan akan tenaga apoteker di Tanah Papua sangat mendesak. Uncen memiliki tanggung jawab moral untuk mempersiapkan dan mendorong hadirnya prodi profesi ini guna menjawab tantangan pelayanan kesehatan,” tegas Dr. Dirk Runtuboy.

Ia juga mengingatkan seluruh jajaran di FMIPA bahwa kualitas sarana prasarana dan pemenuhan kualifikasi SDM harus berjalan beriringan.

“Harapan kita bersama bukan sekadar mengejar status akreditasi Unggul secara administratif. Hal yang paling esensial adalah bagaimana kita membangun culture—budaya mutu. Tujuan akhirnya adalah melahirkan lulusan dan sumber daya manusia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan Tanah Papua,” tutupnya.

 

Sebagai tanda resmi dibukanya rangkaian kegiatan visitasi dan pelatihan ini, Wakil Rektor I Uncen bersama tim narasumber dari APTFI melakukan prosesi pemukulan tifa bersama-sama, yang disambut tepuk tangan meriah dari para dosen, staf, dan mahasiswa yang hadir.  (PW/AA Ed;Flora Ohee)

 

Loading