Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih melalui Jurusan Farmasi menyelenggarakan Sosialisasi Visi, Misi, dan Kurikulum Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) pada Rabu, 13 Mei 2026, di Grand Abe Hotel, Jayapura. Kegiatan ini mengusung tema “Peningkatan Pemahaman Visi, Misi, dan Kurikulum PSPPA Universitas Cenderawasih dalam Mewujudkan Apoteker Profesional dan Berdaya Saing.”
Kegiatan ini merupakan salah satu tahapan strategis dalam proses pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker di Universitas Cenderawasih. Program ini diharapkan menjadi program studi profesi apoteker pertama di perguruan tinggi negeri di Tanah Papua.
Sosialisasi dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain unsur pemerintah, pimpinan perguruan tinggi, organisasi profesi, rumah sakit, puskesmas, apotek, Pedagang Besar Farmasi (PBF), industri farmasi, serta dosen dan tenaga kependidikan. Turut hadir Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Jayapura, Herianto Baan, S.Si., Apt.; Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Papua, Edward Manik Sihotang, S.Si., M.Kes.; serta Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia, Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan dukungan kuat terhadap upaya Universitas Cenderawasih dalam membuka PSPPA guna memperkuat kualitas pelayanan kefarmasian di Papua.
Dalam sambutannya, Ketua PD IAI Papua menegaskan bahwa pembukaan PSPPA di Universitas Cenderawasih merupakan kebutuhan mendesak untuk menjawab keterbatasan jumlah apoteker di Papua. Menurutnya, rasio apoteker di Papua masih belum ideal, sementara banyak fasilitas kesehatan di wilayah terpencil belum memiliki tenaga apoteker. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya pengelolaan obat dan edukasi kepada masyarakat.
“Pembukaan PSPPA di Universitas Cenderawasih akan menjadi solusi strategis untuk mendekatkan akses pendidikan profesi apoteker bagi putra-putri Papua, menekan biaya pendidikan, serta memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Ikatan Apoteker Indonesia siap mendukung penuh melalui rekomendasi organisasi profesi, fasilitasi jejaring wahana praktik, serta pendampingan Uji Kompetensi Apoteker Indonesia.
Dekan FMIPA, Dr. rer. nat. Henderite L. Ohee, M.Si., menjelaskan bahwa proses pendirian PSPPA telah dimulai sejak tahun 2024 dan melalui berbagai tahapan persiapan. Menurutnya, kegiatan sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk menghimpun masukan dari seluruh pemangku kepentingan guna menyempurnakan visi, misi, dan kurikulum program studi.
“Kami sangat mengharapkan saran dan masukan dari para praktisi, rumah sakit, puskesmas, industri, dan organisasi profesi agar program studi ini dapat dibuka dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Papua,” ujarnya.
Wakil Rektor I, Dr. Dirk Y.P. Runtuboy, M.Kes., secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pembukaan PSPPA merupakan langkah strategis Universitas Cenderawasih dalam menjawab kebutuhan pembangunan kesehatan di Papua.
Menurutnya, kurikulum harus disusun berdasarkan pendekatan Outcome-Based Education (OBE) agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga profesional, adaptif, inovatif, dan mampu bersaing secara global. Ia juga menekankan bahwa visi dan misi program studi harus selaras dengan visi Universitas Cenderawasih sebagai perguruan tinggi yang berdaya saing, berkarakter budaya, dan berwawasan lingkungan.
Dalam keynote speech bertema “Arah Pengembangan Kurikulum Profesi Apoteker: Menata Kurikulum Terintegrasi S1 dan PSPPA”, Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa Program Sarjana Farmasi dan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker harus dirancang sebagai satu kesatuan pendidikan selama lima tahun. Semester 1 hingga 8 difokuskan pada penyelesaian pendidikan sarjana, sedangkan semester 9 dan 10 diarahkan sepenuhnya untuk praktik profesi.
Ia juga menekankan bahwa kurikulum harus adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, serta penguatan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, critical thinking, dan kewirausahaan. Menurutnya, visi program studi harus disusun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat Papua agar lulusan siap menjawab tantangan pelayanan kefarmasian di daerah.
Setelah pemaparan visi, misi, dan kurikulum PSPPA, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perwakilan rumah sakit, puskesmas, apotek, Pedagang Besar Farmasi, dan industri farmasi. Berbagai masukan strategis yang dihasilkan antara lain penambahan materi Central Sterile Supply Department (CSSD), penguatan komunikasi efektif berbasis kearifan lokal Papua, serta penyusunan pedoman Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang seragam antara kampus dan wahana praktik.
Peserta juga mengusulkan pembelajaran berbasis studi kasus penyakit endemik Papua seperti malaria dan tuberkulosis untuk memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi uji kompetensi. Masukan lainnya meliputi penguatan materi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pembekalan etika profesi, soft skills, dan orientasi lapangan sebelum praktik, serta peningkatan kemampuan bahasa Inggris dan pemanfaatan teknologi di industri farmasi.
Pada penutupan kegiatan, Dekan FMIPA menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas ide, saran, dan masukan konstruktif yang diberikan. Ia menegaskan bahwa seluruh hasil diskusi akan ditindaklanjuti bersama tim Jurusan Farmasi, Unit Penjaminan Mutu Fakultas, LPMPP Universitas Cenderawasih, dan Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia guna memastikan kurikulum dan visi misi yang disusun memenuhi standar mutu nasional.
“Kami berharap Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Cenderawasih dapat segera dibuka dan menjadi wadah bagi putra-putri Papua untuk menempuh pendidikan profesi apoteker tanpa harus keluar daerah,” ujar Henderite Ohee.
Melalui kegiatan ini, Universitas Cenderawasih menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi di bidang kesehatan dan mencetak apoteker profesional yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pelayanan kefarmasian di Tanah Papua.
*Humas*
![]()
