Warta Uncen

Teknologi Tepat Guna : Pusat Studi Sagu Terima Mesin Pengolah Karya Dosen Uncen

Drs. I Made Budi, M.Si setelah melakukan riset selama 6 tahun tentang pengolahan yang baik dari pohon sagu, telah menyelesaikan pembuatan mesin pengolah setelah beberapa modifikasi selama riset. Final pembuatan produk mesin pengolah sagu rampung pada tahun 2020.

Hasil karya dosen senior FMIPA uncen  ini telah diproduksi lebih dari 10 unit dan sudah dipakai oleh masyarakat di beberapa kabupaten di Papua. Dengan karya ini, sumbangsih pengabdian sebagai wujud pelaksanaaan tri dharma oleh Made Budi diapresiasi oleh BAPIKA (Badan Pengembangan Inovasi dan Kinerja) Uncen.

Kerjasama BAPIKA dan Made Budi dalam inovasi dan pengembangan pendidikan di Uncen  mendukung Pusat Studi Sagu dengan penyerahan dua buah mesin pengolahan mesin sagu kepada Dekan FMIPA. Penyerahan ini disaksikan oleh rektor dan para pejabat universitas di kampus FMIPA. Senin, 7/2/2022.

Usai menerima dua unit mesin tersebut, Dekan FMIPA Dr. Yan Dirk Runtuboy, M.Kes menyampaikan bahwa mesin ini ditempatkan di FMIPA namun mahasiswa semua fakultas di lingkugan uncen bahkan juga pemerintah provinsi, kabupaten dan dinas terkait, juga masyarakat papua yang ingin belajar mengunakan mesin sagu, kami siap membantu.

Pusat teknologi sagu FMIPA yang sudah ada sejak tahun 2018 diharapkan dapat memberdayakan mahasiswa dalam mengunakan mesin tersebut. Pusat Studi Sagu Uncen sudah banyak membantu pemerintah daerah seperti di kabupaten Keerom dan Sarmi  tentang cara kelola sagu dengan baik dan benar.

Rektor Uncen, Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T., M.T sangat berterima kasih kepada Made Budi atas kerja kerasnya dalam membuat mesin tersebut. Hal ini  merupakan wujud tri darma perguruan tinggi sebab selain mengajar, seorang dosen harus melakukan riset dan inovasi hasil risetnya. Mahasiswa juga selain belajar harus mampu berinovasi. Rektor berharap agar ada kolaborasi antara dosen dan mahasiswa  untuk mengelola mesin sagu. Belajar mengoperasikan bahakan bisa memperoduksi hasil olahan.

Sebagai inovator mesin pengolah sagu, Drs.Made menjelaskan bahwa mesin ini dapat digunakan untuk mengupas kulit pohon sagu, sebagai parutan batang sagu yang telah dibersihkan kulitnya, kemudian pemerasan hasil parutan, lalu  proses pressing hasil perasan. Kemudian diakhiri dengan proses pengemasan.

Saya ingin Uncen menjadi produsen mesin ciri khas papua, Uncen harus berkembang dan maju berbasis teknologi sebab uncen adalah perguruan tinggi negeri, harapnya.

Uncen harus menjual jasa lewat pelatihan yang diminta oleh kabupaten/kota bahkan kelompok masyarakat yang ada di Provinsi Papua. Selain di Kabupaten Keerom dan Sarmi, Kabupaten Mappi dan Yapen juga telah membeli produk mesin ini. Bahkan training dan pendampingan telah dilakukan. Uncen dikenal dengan disiplin ilmu, jadi harus produktif bukan hanya di FMIPA namun di semua fakultas yang ada, ujar Dr. Made saat memperkenalkan mesin sagu hasil buatannya.

Ketua BAPIKA Uncen, Dr. Onesimus Sahuleka, SH.,M.Hum menginginkan fokus universitas tidak hanya pada Pendidikan dan pengajaran, namun tuntutan dari risert dan pengabdian harus nyata dalam inovasi. Untuk itu  akan dilakukan inventaris semua produk yang dihasilkan dalam satu wadah khusus, ujarnya.

Dua unit mesin pengolahan sagu ini untuk diperlajari bersama, baik itu dosen atau mahasiswa sehingga pusat teknologi sagu FMIPA bisa mampu menjual jasa kepada pemerintah daerah yang membutuhkan, mesin tersebut harus dijaga dan digunakan sebaik baiknya, harap Ones.

(MS/PW/AA/YT)

Loading