Lebih dari Sekadar Pangan: Menelisik Identitas dan Imunitas Adaptif Masyarakat Papua di Seminar FISIP Uncen

bnr-arrow-1-1.png

 

JAYAPURA – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Genetika Kebudayaan dan Pangan di Papua”. Berlangsung di Hotel Horison Kotaraja pada Rabu (25/2/2026), kegiatan ini mengupas tuntas kaitan antara kekayaan genetik, warisan budaya, dan ketahanan pangan lokal di Bumi Cenderawasih.

 

 

Seminar strategis ini merupakan wujud kerja sama antara Uncen dan Mochtar Riady Institute for Nanotechnology(MRIN), dengan menghadirkan empat narasumber pakar di bidangnya. Keempat narasumber tersebut adalah:

  1. dr. Herawati Sudoyo, MS., Ph.D.(Peneliti Utama MRIN) – Membawakan materi “Cerita DNA Nusantara: Cerita Keragaman Genetik Indonesia”.
  2. Safarina G. Malik, MS., Ph.D.(Peneliti Utama MRIN) – Memaparkan “Peran Keberagaman Leluhur dan Lingkungan dalam Membentuk Imunitas Adaptif dan Mikroba di Indonesia”.
  3. Ahmad Arif(Jurnalis Senior Kompas) – Mengulas “Keragaman Sumber dan Budaya Pangan sebagai Kekuatan Gizi Papua”.
  4. Simon Abdi K. Fank, M.Si.(Dosen Antropologi Uncen) – Menjelaskan “Genetika Membentuk Imunitas Adaptif Kebudayaan Papua yang Emik, Inklusif, dan Berkelanjutan”.

Dekan FISIP Uncen, Marlina Flassy, S.Sos., M.Hum., Ph.D., dalam sambutannya menekankan relevansi tema seminar dengan kondisi Papua saat ini. Ia menyampaikan bahwa Papua tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga memiliki keragaman budaya dan sistem pangan lokal yang unik serta mengakar kuat pada identitas masyarakat adat.

“Pendekatan genetika kebudayaan dan pangan ini bukan sekadar kajian ilmiah, tetapi juga menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Kita berharap seminar ini menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah untuk mempertahankan pangan lokal Papua sebagai warisan budaya. Pengetahuan lokal warisan leluhur adalah sumber nutrisi yang telah membentuk ketangguhan fisik generasi Papua sejak dahulu,” ujar Marlina Flassy. Ia juga menambahkan bahwa solusi atas persoalan pangan di Papua dapat ditemukan melalui optimalisasi kekayaan sumber daya alam lokal, baik di darat maupun di laut.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik Uncen, Dr. Dirk Y.P. Runtuboy, S.Pd., M.Kes., yang hadir mewakili Rektor untuk membuka kegiatan secara resmi, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif dan kolaborasi FISIP. Menurutnya, sebagai fakultas tertua di Uncen, FISIP memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk menjadi pelopor pengembangan ilmu sosial di tengah pesatnya kemajuan sains dan teknologi.

“Ilmu sosial harus mampu memberikan arah, perspektif kritis, serta pijakan etis dan kultural dalam merespons perubahan. Pembangunan tidak boleh terlepas dari identitas dan nilai kearifan lokal kita. Melalui forum ini, saya berharap lahir gagasan inovatif, rekomendasi kebijakan, dan jalan pengembangan riset lintas disiplin yang berbasis pada keunggulan komparatif antropologi sosial dan budaya,” tegas Dr. Dirk Runtuboy.

Turut hadir dalam acara ini jajaran pimpinan fakultas, para dosen, serta  mahasiswa, khususnya dari Jurusan Antropologi FISIP. Setelah dibuka secara resmi, kegiatan langsung dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi secara panel oleh keempat narasumber. Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, khususnya saat memasuki sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif dalam merumuskan ketahanan pangan Papua ke depan. (PW  Ed;Flora Ohee)

Loading

Tags: