Kegiatan mengusung tema “Bersama FMIPA Uncen 2026: Melestarikan Alam, Menyehatkan Jiwa, Memperkuat Kekeluargaan.”
Pencanangan dihadiri Wakil Rektor I Uncen Dr. Dirk Y.P. Runtuboy, S.Pd., M.Kes., pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, masyarakat adat Kampung Enggros, unsur Polairud, serta komunitas lingkungan. Acara dibuka langsung oleh Dekan FMIPA Uncen, Dr.rer.nat. Henderite L. Ohee, M.Si.

Beragam kegiatan dilaksanakan dalam pembukaan tersebut, antara lain jalan santai, aksi bersih pantai, pembersihan sampah di laut oleh tim penyelam, penanaman mangrove, kompetisi konten media sosial, permainan, hingga pemeriksaan kesehatan gratis.
Dalam sambutannya, Dekan FMIPA Uncen Dr.rer.nat. Henderite L. Ohee, M.Si menegaskan bahwa peringatan dies natalis tahun ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia menyampaikan bahwa peringatan yang bertepatan dengan Hari Kasih Sayang menjadi pengingat untuk menyayangi tidak hanya sesama manusia, tetapi juga alam. Menurutnya, berbagai bencana lingkungan harus menjadi bahan refleksi bersama agar manusia kembali menjaga alam.
“Melalui tema bulan dies ini kami menekankan kekeluargaan. Kami ingin keluarga besar FMIPA tidak hanya akrab di internal kampus, tetapi juga menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Kota Jayapura,” ujarnya.
Dekan juga menegaskan komitmen keberlanjutan program penanaman mangrove. FMIPA akan menjadwalkan pemantauan rutin terhadap mangrove yang ditanam dengan melibatkan jurusan terkait, seperti Biologi dan Ilmu Kelautan dan Perikanan, serta bersinergi dengan masyarakat adat setempat.
Sementara itu, Wakil Rektor I Uncen Dr. Dirk Y.P. Runtuboy, S.Pd., M.Kes menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna filosofis yang kuat karena bertepatan dengan Hari Kasih Sayang.
Menurutnya, manusia sebagai ciptaan Tuhan tidak hanya harus saling menyayangi, tetapi juga menjaga lingkungan sekitar. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi salah satu ciri khas FMIPA yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai dasar kepedulian terhadap alam.
Ia juga mengapresiasi kontribusi FMIPA selama 28 tahun berdiri yang dinilai menjadi barometer perkembangan akademik di Universitas Cenderawasih, baik melalui prestasi mahasiswa, dosen, maupun tata kelola kelembagaan hingga tingkat nasional dan internasional.
“Momentum ini bukan sekadar seremonial, tetapi refleksi capaian sekaligus melihat masa depan FMIPA dalam menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan berkontribusi bagi pembangunan Papua dan Indonesia,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, aktivis lingkungan dan hak-hak perempuan asal Kampung Enggros, Petronella Merauje, mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam aksi lingkungan. Penerima penghargaan Kalpataru tahun 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut menekankan pentingnya kesadaran menjaga alam dimulai dari diri sendiri. 
Ia mengingatkan bahwa menjaga lingkungan tidak harus dengan hal besar, melainkan dari kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan menanam mangrove.
“Tanam satu mangrove saja sudah memberi manfaat oksigen bagi banyak orang. Jangan hanya datang menanam lalu pergi. Yang terpenting adalah menjaga dan merawatnya,” katanya.
Petronella juga berharap perguruan tinggi dapat berperan aktif memberikan masukan kepada pemerintah dalam penyusunan regulasi pengelolaan sampah agar dilakukan secara konsisten.
Melalui pencanangan ini, FMIPA Uncen berharap rangkaian kegiatan dies natalis tidak hanya mempererat kebersamaan sivitas akademika, tetapi juga meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan pesisir Kota Jayapura. (Nav, Ed; Flora Ohee )


![]()