JAYAPURA – Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) menggelar acara syukuran dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-48. Acara yang berlangsung penuh khidmat ini dilaksanakan di Aula FISIP Uncen, Kampus Waena, pada Jumat (9/1/2026).
Mengusung tema “48 Tahun Refleksi, Relevansi, dan Tanggung Jawab Keilmuan”, perayaan ini menjadi momentum penting bagi seluruh civitas akademika untuk menengok kembali perjalanan panjang jurusan tersebut sejak berdiri pada 9 Januari 1978.
Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FISIP Uncen, Marlina Flassy, S.Sos., M.Hum., Ph.D., beserta jajarannya. Turut hadir mewakili Rektor Uncen, Wakil Rektor III Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., serta para dosen senior, alumni, dan mahasiswa Jurusan Antropologi.
Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan III FISIP, Apner Krei, S.Sos., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa Dies Natalis ini dirancang bukan semata-mata sebagai perayaan seremonial. Lebih dari itu, momentum ini dimaknai sebagai ruang refleksi, dialog, dan penguatan tanggung jawab keilmuan.
“Tema ini mengajak kita semua untuk menilai kembali relevansi Antropologi dalam menjawab dinamika sosial budaya Papua hari ini, serta menegaskan tanggung jawab keilmuan di tengah perubahan sosial, politik, dan ekonomi pembangunan yang terus berlangsung,” ujar Apner.
Apner juga menambahkan bahwa meski persiapan dilakukan dalam waktu singkat dengan berbagai keterbatasan, komunikasi yang intens antara panitia, dosen, dan alumni menjadi kunci suksesnya acara ini.
“Terselenggaranya kegiatan ini adalah bukti komitmen kolektif keluarga besar Antropologi Uncen. Semangat saling menopang ini mencerminkan nilai-nilai kekerabatan yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan jurusan,” tambahnya.
Dekan FISIP Uncen, Marlina Flassy, S.Sos., M.Hum., Ph.D., dalam sambutannya mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji syukur atas penyertaan Tuhan sehingga Jurusan Antropologi dapat mencapai usia ke-48 tahun. Ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para senior yang telah mendedikasikan waktu dan tenaga untuk mengembangkan jurusan tersebut.
Marlina menekankan bahwa tantangan pembangunan ke depan membutuhkan kontribusi nyata dari para antropolog, baik di tingkat lokal Papua, nasional, maupun global.
“Hari ini tantangan besar di Tanah Papua membutuhkan kerja keras para antropolog untuk membantu masyarakat adat mempertahankan hak-hak ulayat dan kebudayaan mereka. Kita perlu menjaga jati diri sebagai masyarakat Papua agar kebudayaan yang ada tidak hilang tergerus zaman,” tegas Marlina.
Sebagai informasi, Jurusan Antropologi Uncen resmi berdiri pada 9 Januari 1978 berdasarkan Surat Keputusan Rektor yang saat itu dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Atma Jaya.
Mewakili Rektor Uncen, Wakil Rektor III Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., secara resmi membuka acara Dies Natalis tersebut. Dalam arahannya, Dr. Septinus menyoroti pentingnya Antropologi sebagai basis ilmu pengetahuan dalam memahami budaya Papua.
“Untuk memastikan pembangunan di Papua tepat sasaran dengan pendekatan yang baik, diperlukan basis penelitian dan pengabdian yang kuat untuk memahami konteks budaya setempat,” ungkapnya.
Ia juga berharap agar peringatan Dies Natalis di masa mendatang dapat diisi dengan kegiatan ilmiah yang lebih luas. “Ke depan, mungkin perlu diadakan seminar nasional untuk membahas bagaimana memperkuat ilmu antropologi sebagai basis keilmuan dalam membangun Papua. Mari kita bersama-sama memberikan kontribusi, tidak hanya untuk Antropologi, tetapi juga untuk kemajuan FISIP dan Uncen secara umum,” pungkasnya.
Perayaan Dies Natalis ke-48 ini diharapkan dapat terus mempererat hubungan kekerabatan antara dosen, mahasiswa, dan alumni, sekaligus memperteguh posisi ilmu Antropologi yang berpihak pada kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberlanjutan budaya Papua. (Humas Uncen)





![]()