Uncen Gandeng The Max Planck Institute-Jerman Adakan Penelitian di Pedalaman Papua.

Uncen Gandeng The Max Planck Institute-Jerman Adakan Penelitian di Pedalaman Papua.

The Max Planck Institute for Ornithology, Jerman yang diwakili oleh Direktur Prof. Dr. Wulf Schiefenhoevel dan Universitas Cenderawasih yang diwakili oleh Pembantu Rektor IV Bidang kerjasama Dr. Fredrik Sokoy, S.Sos.,M.Sos menandatangani naskah Perjanjian Kerjasama/ Memorandum of Agreement (MoA) Kamis, 17 November 2022 di gedung museum Universitas Cenderawasih. Ini merupakan kelanjutan dari Memorandum of Understanding  (MoU) yang telah ditandatangani oleh Rektor Uncen Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST.,MT dan Director of Max Planck Institute Prof Dr. Manfred Gahr pada September lalu.

Kedua belah pihak (Uncen dan the Max planck Institute) kali ini akan lebih konsen pada pelaksanaan penelitian yang rencananya akan dilakukan di Provinsi Papua, Papua Pegunungan dan Papua Barat, Indonesia, serta di Jerman dalam bidang ilmiah, biologi dan antropologi.

Prof. Wulf yang pada saat penandatanganan didampingi oleh Prof. Marian Vanhaeren mengatakan antusias atas terjalinnya kerjasama ini. “Saya sudah puluhan tahun mengadakan penelitian di pedalaman Papua dan merasa sangat betah tinggal di Papua. Dengan adanya MoA ini membuat kami semakin bersemangat untuk eksplore wilayah Papua khususnya dalam bidang arkeologi dan etnoarkeologi dan sejarah nya”.

Sementara itu Pembantu Rektor IV ketika berbincang-bincang menyatakan dukungan atas kerjasama penelitian ini. “Prof. Wulf dan Prof. Marian bukan orang baru di Papua khususnya Uncen, hasil dari penelitian mereka di Papua sudah dapat kita lihat dari buku-buku yang mereka hasilkan. Mereka berdua juga pernah menjadi pembicara dalam kuliah umum di Uncen yang membahas tentang arkeologi dan etnoarkeologi serta prehistoric research di Melanesia yang merupakan hasil penelitian mereka di daerah Eipo, suku Meek dan Pegunungan Bintang-Papua”.

Mengakhiri perbincangan, Pembantu Rektor IV berharap dengan ditandatangani nya naskah MoA ini akan semakin membuat para peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian di Papua dan bukan hanya peneliti manca negara saja, namun dapat mengguggah para peneliti nasional.

Dalam naskah MoA tercantum ruang lingkup kerjasama dalam hal: Pertukaran dosen, ilmuwan dan mahasiswa, Pertukaran materi akademik dan publikasi, melakukan kerja lapangan bersama di Papua, dan melakukan penelitian bersama di Jerman untuk menganalisis dan mempublikasikan data yang terkumpul, menyelenggarakan pertemuan ilmiah bersama serta menyelenggarakan kuliah dan bentuk sosialisasi hasil lainnya di kalangan akademisi dan masyarakat umum (misalnya kuliah umum dan pameran).

Turut hadir dalam penandatanganan kerjasama, curator museum Endrico Kondologit dan subkoordinator kerjasama Helisa Hadmi,S.Sos.,M.Ak.

(HH/NM)